Bisa dibilang kopi adalah minuman yang identik dengan begadang. Karna kandungan kafeinnya konon dapat mengusir rasa kantuk, sehingga belum afdhol rasanya kalo begadang tanpa kopi.
Konon juga kopi menjadi minuman favorit bagi kaum sufi di timur tengah sebagai minuman pencegah kantuk saat mereka begadang di malam hari untuk berkasih mesra dengan Sang Pencipta.
Sebegitu hebatnya efek kopi dalam mengusir rasa kantuk bagi orang-orang namun tidak bagi saya, bagi saya ngantuk ya ngantuk saja dicegah dengan bergelas-gelas kopi tetap saja ketiduran (memang dasare ngebo :D).
Saya mengenal kopi sudah cukup lama, lebih lama dari proses penyelesaian kasus munir atau panjangnya sinetron tersanjung atau cinta fitri atau bahkan jika durasi 2 sonetron itu digabungkan niscaya masih lebih lama kenal saya dengan kopi, namun perkenalan yang cukup lama tidak lantas menjadikan kami menjadi best friend atau konco kenthel, hanya dia saja yang kadang ke'pede'an merasa diri kenthel, saya sih engga'. :P.
Bukan apa-apa tapi karena lambung saya jadi kembung kalau minum kopi, dan percayalah untuk masalah teman saya tidak pilih-pilih.
Jalan hidup memang susah di tebak, suatu ketika saya yang kurang suka dengan kopi dipentokkan dengan keadaan yang setiap harinya selalu bernuansa kopi. Ketika saya menikah kebetulan mertua adalah petani musiman kopi di Sumatra, saya sebut musiman karena mertua saya ke kebun kopi hanya jika sedang memelihara dan panen saja selebihnya bertani di Jawa tempat asalnya.
Demi cinta dan mengakrabkan diri pada keluarga istri, saya rela "berkembung ria" setiap disuguhi kopi asli Sumatra diwaktu pagi dan sore hari ( kurang opo jal aku wahai istriku hehe... ). Lambat laun akhirnya saya pun jadi akrab dengan kopi.
Namun Ditengah saya berjuang untuk menyukai kopi ujian pun datang dengan munculnya kasus kematian mbak Wayan mirna sholihin yang diduga diracun dengan sianida yang dicampur dalam kopi (opo ora ngeri jal). Bagaikan panas setahun terhapus oleh hujan sehari, perjuanganku step by step untuk mencintai kopi kembali pudar.
please dech....mbok ya jangan kopi....minuman yang lain kan banyak, tajin kek atau air legen (nira)
Kan yo bisa row.
Tidak cuma itu, beberapa waktu yang lalu saya melihat berita dimedsos seperti ini
.
Jelas ini menurunkan pamor kopi dimata saya karna saya termasuk yang tidak setuju dengan LGBT
Namun percayalah pemirsa, kopi mertua saya asli dari Sumatra "Tanpa sianida dan tidak berpelangi"
Senin, 15 Februari 2016
Ayo Ngopi Lagi
Label:
JAGONGAN
Kamis, 21 Januari 2016
Logika sederhana bersedekah (dari mBok saya)
Label:
LAGI WARAS
Jumat, 15 Januari 2016
Pudarnya gelar “Mbah” dihatiku untuk Google :P
Entah dengan kriteria apa dan sejak kapan gelar
“Mbah” melekat pada mesin pencari Google. Sepengetahuan saya kata “Mbah”
berasal dari Bahasa Jawa, merupakan akronim dari kata tambah (tempat untuk
minta tambah). Kata yang searti adalah “Mbok” akronim dari kata tombok (tempat
untuk minta tombok).
Padahal
sejatinya kewajiban seorang ayah dan ibu akan selesai saat putra putri mereka
menikah, namun pada kenyataannya acap kali yang sudah menikah masih sering
minta tombok (koyo aku), bahkan pada level cucupun masih minta tambah. Alangkah
indahnya hidup kita ini berada di lingkungan dengan budaya mbok dan mbah, sehingga walaupun seharusnya sudah
berada pada level mandiri masih punya cadangan oase-oase penyejuk saat badai
kemarau melanda, hehe...
Gelar mbah itu identik dengan umur yang tua,
banyak tau tentang hal ( kenyang manis,asin dan pahitnya kehidupan alias
berpengalaman ) dan tentunya bijaksana.
Dari beberapa pemahaman saya tentang gelar mbah itu
kemudian saya mencoba menghubung-hubungkan (othak-athik gathuk) barangkali memang benar
bahwa gelar mbah patut melekat pada mesin pencari google.
Untuk kriteria mbah sebagai tempat untuk minta
tambah okelah saya setuju gelar mbah disematkan pada google, karena saya akui
bahwa sayapun sering memanfaatkan google untuk menambah pengetahuan saya
tentang berbagai hal, sedangkan untuk kriteria tua saya maklum, walaupun
umurnya belum setua Tirex tidak masalah dan pada kriteria tahu banyak hal alias
pengalaman saya juga mengakuinya.
Sampai pada devinisi ini saya masih mampu
menghubungkan dan memaklumi pelekatan gelar mbah pada google. Namun ketika sampai
pada kriteria mbah sebagai sosok yang bijaksana, disini saya mulai tidak
setuju, karena terlalu baik hati (lomo) apa saja yang diminta anak cucunya
seketika itu juga dipenuhi, tidak membiarkan dulu anak cucu belajar dan
berusaha tanya guru kek… atau tanya Didu kek….hal ini membuat mereka jadi
generasi manja karena tidak ada tantangan sama sekali hehe…
Karena saking baiknya apapun yang diminta
diberikan tanpa memfilter apakah baik atau tidak buat mereka (lha ini kan
namanya tidak wise tow…). Dan puncak ketidak setujuan saya atas penyematan
gelar mbah tersebut adalah saat saya tahu bahwa google punya fitur yang menurut
saya sangat diskriminatif yaitu google street view.
Di rilis tahun 2007 Google street view merupakan fitur
google map yang menyediakan pemandangan jalan 360 derajat. Saat
dioperasikan menampilkan foto yang
sebelumnya diambil oleh kamera diatas sebuah kendaraan dan dapat dijelajahi
menggunakan tombol panah pada keyboard atau menggunakan mouse computer anda.
Contohnya seperti foto-foto berikut
SMKN 1 Bancak (Google street view, kontributor:Nur Salim)
Itu adalah gambar sekolah saya yang ditelusuri menggunakan google street view.
Nah yang membuat saya gondok dan menjadi tidak setuju adalah foto berikut
Itu adalah gambar terakhir yang bisa ditelusuri menggunakan google street view yaitu gambar yang diambil dari ujung aspal pondok gede perbatasan kabupaten semarang, dan jika lurus terus adalah menuju desa saya.
Ternyata google street view hanya berhenti pada
jalan yang sudah bagus/beraspal, sedangkan untuk jalan yang jelek tidak dianggap
sebagai jalan….. (ngono kuwi kan jenenge diskriminatif dan sangat tidak
Wise….!!!!), atem.
“Mbah” untuk google…..”nggak banget”
Label:
ANALISA NGAWUR
Langganan:
Postingan (Atom)





